Catatan dari meja wawancara: menggali keahlian yang sulit dijelaskan
Orang yang paling ahli sering paling sulit menjelaskan pekerjaannya. Beberapa kebiasaan kecil yang membantu wawancara menghasilkan bahan tulisan yang hidup.
Tulisan contoh untuk demo template. Nama penulis dan tanggal adalah data contoh.
Sebagian besar tulisan keahlian yang baik lahir dari wawancara, bukan dari riset di internet. Narasumbernya bisa pemilik usaha, insinyur, konsultan, atau staf yang setiap hari berbicara dengan pelanggan. Mereka tahu banyak hal, tetapi pengetahuan itu sering sudah menjadi kebiasaan sehingga sulit diucapkan.
Catatan ini merangkum kebiasaan yang saya pakai agar wawancara tidak berakhir dengan jawaban normatif yang bisa diucapkan siapa saja.
Siapkan pertanyaan, lalu siap meninggalkannya
Saya selalu datang dengan daftar pertanyaan. Daftar itu berfungsi sebagai peta, bukan naskah. Ketika narasumber menyinggung sesuatu yang menarik, misalnya keputusan yang dulu terasa salah atau kebiasaan yang tidak dilakukan pesaing, saya mengikuti arah tersebut dan kembali ke daftar belakangan.
Jawaban paling berharga hampir tidak pernah berasal dari pertanyaan pertama. Ia muncul ketika narasumber mulai merasa nyaman dan berhenti menjawab dengan bahasa brosur.
Minta cerita, bukan definisi
Pertanyaan seperti apa keunggulan layanan Anda hampir selalu menghasilkan jawaban yang umum. Saya menggantinya dengan pertanyaan yang meminta cerita.
- Ceritakan proyek terakhir yang membuat Anda harus mengubah rencana di tengah jalan.
- Apa pertanyaan yang paling sering diajukan klien pada pertemuan pertama?
- Kesalahan apa yang sering Anda lihat sebelum klien datang kepada Anda?
- Jika harus menjelaskan pekerjaan ini kepada keponakan, contoh apa yang akan Anda pakai?
Cerita memberi detail yang tidak bisa dikarang: urutan kejadian, alasan di balik keputusan, dan bahasa yang dipakai sehari-hari. Detail seperti inilah yang membuat tulisan terasa ditulis oleh orang yang benar-benar mengerjakan pekerjaannya. Semua cerita tentu perlu dicek ulang dan disetujui narasumber sebelum diterbitkan, terutama jika menyangkut klien mereka.
Setelah wawancara selesai
Jeda yang tidak perlu diisi
Kebiasaan yang paling sulit saya pelajari adalah membiarkan jeda. Setelah narasumber selesai menjawab, sering ada beberapa detik hening yang terasa canggung. Jika saya langsung melompat ke pertanyaan berikutnya, kesempatan itu hilang. Jika saya menunggu, narasumber biasanya menambahkan sesuatu: contoh, pengecualian, atau alasan yang tadi belum sempat diucapkan. Tambahan kecil semacam ini sering menjadi bagian paling menarik dari tulisan.
Izin dan kejelasan sejak awal
Sebelum wawancara dimulai, saya menjelaskan untuk apa hasilnya akan dipakai, apakah percakapan direkam, dan bahwa narasumber akan melihat draf sebelum terbit. Penjelasan ini bukan formalitas. Narasumber yang tahu batasannya cenderung berbicara lebih terbuka, karena mereka tidak khawatir ucapan spontan akan langsung dikutip apa adanya.
Dalam satu jam setelah wawancara, saya menulis ringkasan pendek berisi tiga hal: gagasan paling kuat, kutipan yang terdengar paling khas, dan pertanyaan yang belum terjawab. Ringkasan ini ditulis sebelum membuka rekaman, karena ingatan pertama biasanya menangkap hal yang paling berkesan.
Setelah itu, barulah rekaman atau catatan lengkap dibaca ulang untuk memastikan tidak ada yang keliru. Draf yang dihasilkan kemudian dikirim kembali ke narasumber untuk diperiksa faktanya, bukan gayanya. Pembagian peran ini membuat proses persetujuan lebih cepat dan tulisan tetap terdengar utuh. Untuk langkah menyunting berikutnya, tulisan tentang paragraf pembuka bisa menjadi pelengkap.