Penulis & konsultan komunikasi

Demo template · konten contoh

Aksara

Draf pertama boleh berantakan, tetapi harus selesai

Menyunting sambil menulis membuat draf tidak pernah rampung. Catatan singkat tentang memisahkan dua pekerjaan itu, dan aturan kecil yang membantu.

Tulisan contoh untuk demo template. Nama penulis dan tanggal adalah data contoh.

Salah satu keluhan yang paling sering saya dengar di workshop adalah sulit memulai. Setelah ditelusuri, masalahnya jarang ada pada memulai. Yang terjadi adalah penulis mencoba membuat setiap kalimat sempurna sebelum pindah ke kalimat berikutnya. Akibatnya, satu jam habis untuk satu paragraf dan draf tidak pernah selesai.

Menulis dan menyunting adalah dua pekerjaan

Menulis draf membutuhkan kelonggaran untuk salah. Menyunting membutuhkan sikap kritis. Ketika keduanya dikerjakan bersamaan, sikap kritis hampir selalu menang dan kelonggaran untuk salah menghilang. Kita berhenti di tengah kalimat, meragukan pilihan kata, lalu membuka tab lain untuk mencari referensi yang sebenarnya belum dibutuhkan.

Memisahkan keduanya berarti memberi izin kepada diri sendiri untuk menulis kalimat yang jelek, dengan janji bahwa kalimat itu akan diperbaiki nanti. Draf yang berantakan tetapi utuh jauh lebih mudah diperbaiki daripada paragraf sempurna yang berdiri sendirian tanpa kelanjutan.

Aturan kecil yang membantu

  • Tulis kerangka berupa daftar poin sebelum menulis paragraf. Kerangka ini boleh berubah.
  • Tandai bagian yang belum yakin dengan tanda kurung siku, lalu lanjutkan menulis.
  • Jangan menghapus apa pun pada tahap draf; coret atau pindahkan ke bagian bawah dokumen.
  • Beri jeda minimal satu malam sebelum mulai menyunting, jika tenggat memungkinkan.
  • Saat menyunting, mulai dari struktur, baru kemudian kalimat dan pilihan kata.

Aturan-aturan ini tidak membuat menulis menjadi mudah, tetapi membuatnya lebih bisa diprediksi. Anda tahu bahwa di akhir sesi akan ada draf utuh untuk dikerjakan, bukan halaman kosong dengan satu paragraf yang sudah diperbaiki lima kali.

Seperti apa draf yang cukup

Draf pertama tidak perlu enak dibaca. Ia cukup memenuhi tiga syarat: semua bagian utama sudah ada, urutannya masuk akal, dan penulis tahu apa yang ingin disampaikan di setiap bagian. Kalimat boleh kaku, contoh boleh belum tepat, dan transisi antarparagraf boleh masih kasar.

Dalam proyek bersama klien, saya sering mengirim draf pada tahap ini dengan catatan jelas bahwa yang diminta adalah tanggapan atas isi dan urutan, bukan atas pilihan kata. Tanggapan pada tahap ini jauh lebih berguna. Mengubah urutan bagian ketika kalimat belum dipoles terasa ringan, sedangkan mengubahnya setelah semua kalimat rapi terasa seperti membuang pekerjaan.

Menyunting dalam tiga putaran

Setelah draf utuh, penyuntingan lebih mudah jika dibagi menjadi beberapa putaran dengan fokus yang berbeda. Mencoba memperbaiki semuanya sekaligus membuat kita kembali ke kebiasaan lama: berhenti di setiap kalimat.

  1. Putaran struktur: apakah urutan bagian sudah menjawab pertanyaan pembaca, dan adakah bagian yang perlu dipindah atau dihapus?
  2. Putaran paragraf: apakah setiap paragraf membawa satu gagasan, dan apakah kalimat pertamanya memberi tahu isi paragraf tersebut?
  3. Putaran kalimat: kata yang berulang, kalimat yang terlalu panjang, istilah yang belum dijelaskan, dan salah ketik.

Urutan ini sengaja bergerak dari hal besar ke hal kecil. Tidak ada gunanya memoles kalimat di paragraf yang nantinya dihapus. Untuk tulisan pendek seperti email, ketiga putaran bisa dilakukan dalam beberapa menit. Untuk artikel atau naskah halaman, masing-masing putaran layak diberi waktu tersendiri.

Setelah draf selesai, pekerjaan menyunting bisa dimulai dengan tenang. Tulisan tentang kata kerja yang membuat kalimat bergerak memberi contoh jenis perbaikan yang cocok dilakukan pada tahap tersebut.

Sekar Ayuningtyas

Saya membantu bisnis dan organisasi merapikan cara mereka bercerita: dari kalimat pertama di halaman website sampai rencana konten beberapa bulan ke depan.

Tentang penulis